Jumat, 15 Maret 2013

Rumah Shakespeare Dihancurkan

 
Kesadaran menjaga cagar budaya, sebuah tempat yang mengandung nilai sejarah tinggi tidak selamanya mudah dipraktekan. Bukan hanya di negeri kita, bahkan di Eropa yang selalu dibanggakan karena bisa menjaga warisan sejarahnya dengan baik, ternyata punya kisah unik. Apalagi ini terjadi pada tokoh sastra paling populer: Shakespeare.

Sebuah rumah di Inggris, diyakini menjadi tempat sang pujangga menulis sejumlah karya besarnya seperti The Tempest; dan tempat ia meninggal dunia pada 1616, menurut Yayasan Shakespeare Birthplace Trust.

 
 travelerfolio.com
Bangunan ini memiliki nilai sejarah dan budaya yang sangat penting dan merupakan harta karun nasional.

Tetapi pandangan ini tidak disepakati oleh Francis Gastrell. Ia membeli rumah itu pada 1753 tapi ia merasa jengkel dengan banyaknya turis yang datang ingin melihat rumah tersebut, kata ahli sejarah arsitektur Gavin Stamp.

Gastrell juga disebut bersitegang dengan pejabat setempat karena masalah pajak.

Gastrell sebelumnya sudah mendapat cemoohan oleh warga setempat setelah ia menebang sebuah pohon mulberry yang ditanam oleh Shakespeare di kebun.

Kemudian saat kejengkelannya memuncak, ia menghancurkan seluruh rumah pada 1759 hingga tinggal hanya pondasinya tersisa.

Warga Statford-upon-Avon sangat marah dan Gastrell menjadi orang yang amat tidak populer hingga ia terpaksa pindah ke kota lain, kata Stamp. Dan, rumah itu dibangun kembali pada 1880 oleh pemerintah Inggris.

 
Peran Pemerintah Sangat Penting

Mengapa sebuah cagar budaya begitu mudah terbengkalai? Banyak penyebabnya. Salah satunya adalah karena dimiliki secara pribadi sehingga memerlukan biaya perawatan ekstra. Gawatnya, pemerintah seringkali tidak ikut turun tangan.

Seabad lalu, problema ini masih terjadi di belahan dunia barat. Seperti kasus di Inggris, selain rumah Shakespeare, ada banyak contoh lainnya. Misalnya, Pada 1808 Lady Howe menghancurkan villa milik Alexander Pope di Twickenham karena alasan serupa.

"Orang seperti Gastrell bisa melakukan apa saja yang mereka sukai, pemerintah saat itu tidak punya kekuasaan untuk menghentikan mereka. Orang percaya bahwa mereka memang memiliki hak absolut untuk menghancurkan properti milik mereka."

Ide bahwa negara bisa menghentikan seseorang melakukan apa saja pada properti milik pribadi dinilai konyol saat itu.

Bahwa warisan budaya Inggris layak dilestarikan adalah keyakinan sedikit orang radikal saja, kata ahli sejarah.

Tetapi setelah puluhan tahun menyaksikan bangunan-bangunan bersejarah hancur, masyarakat dan pemerintah bertekad melakukan sesuatu.

Tindakan yang dipelopori oleh John Lubbock, wakil rakyat dari Orpington di Kent, menjadi awal legislasi Undang Undang Monumen Kuno, yang memastikan warisan budaya Inggris harus dilestarikan.

Kesadaran itu telah tumbuh begitu besar, dan bagaimana dengan negara kita? Begitu banyak bangunan cagar budaya yang mengalami nasib tragis. Organisasi masyarakat yang peduli harus berjuang mati-matian agar pemerintah bisa sadar. 

Bila pemerintahan negara-negara di belahan barat sana telah menyadarinya sejak puluhan, bahkan seabad lalu, maka kapan negara ini mengambil tindakan serupa? Apakah ini pertanda negara kita begitu jauh terAtinggal ? Bagaimana menurut Anda?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar